Kamis, 07 April 2011

Prasejarah Gua Pawon

Ragam tinggalan arkeologis yang berasal dari masa yang lebih muda di kawasan Jawa bagian barat, antara lain ditemukan dari periode penghunian yang telah memanfaatkan gua sebagai tempat beraktivitas. Satu-satunya gua di Kawasan Jawa bagian barat yang memiliki temuan yang paling lengkap tentang penghidupan prasejarah di dalamnya adalah Gua Pawon. Gua ini terletak di kawasan batu gamping Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat atau dalam skala kawasan yang lebih luas berada di bagian barat Dataran Tinggi Bandung yang dahulunya melingkungi kawasan Danau Bandung Purba.
Tengkorak RIV

Gua tersebut merupakan penemuan baru dalam kegiatan penelitian prasejarah yang pernah dilakukan di daerah Jawa bagian barat. Penelitian terhadap gua-gua yang terdapat di kawasan Jawa bagian barat (kawasan selatan Garut, Ciamis dan Tasikmalaya), yang telah dilakukan selama ini belum menemukan adanya gua-gua  yang memiliki adanya indikasi pada periode hunian yang lebih tua (Agus, 1998,1999,2000,2002 dan 2003).
Gua Pawon
Penelitian (ekskavasi) arkeologi di Gua Pawon antara lain telah dilakukan oleh Balai Arkeologi Bandung pada bulan Juli dan Oktober (2003), April dan Mei (2004), Oktober (2005), dan April (2009). Selain penelitian oleh Balai Arkeologi Bandung, penelitian Gua Pawon juga dilakukan bekerjasama dengan Balai Pengelolaan Peninggalan Purbakala, Sejarah dan Nilai Tradisional Jawa Barat, juga dilakukan dalam rangka praktikum arkeologi mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Pajajaran. Dalam penelitian tersebut ditemukan berbagai bentuk peralatan berupa alat-alat serpih  yang terbuat dari bahan obsidian,jasper dan kalsedon, alat tulang dan taring berupa lancipan dan spatula, perkutor, sisa-sisa molusca, jejak perhiasan dari gigi ikan (hiu), taring hewan, molusca serta rangka manusia berupa tengkorak, atap tengkorak serta rangka yang cukup lengkap yang ditemukan terkubur  dalam posisi terlipat (Lutfi Yondri).

Kamis, 24 Februari 2011

Kota Hilang Holotan

Tentang Holotan
Berdasarkan beberapa prasasti yang pernah ditemukan, kerajaan tertua yang dikenal di Jawa Barat yaitu Kerajaan Tarumanegara. Prasasti yang berasal dari masa tersebut adalah Prasasti Ciaruteun, Pasir Koleangkak, Kebon Kopi, Tugu, Pasir Awi, Muara Cianten, dan Prasasti Cidanghiang. Selain prasasti, sumber lain yang menyebut tentang keberadaan Kerajaan Tarumanegara adalah berita asing dari Cina.

I'Tsing (abad ke 7 M) dalam catatan perjalanannya menyebut tentang To-lo-mo. Berita dari masa Dinasti Soui dan T'ang Muda juga menceritakan mengenai sebuah kerajaan yang bernama To-lo-mo. Menurut beberapa ahli To-lo-mo merupakan lafal Cina dari Taruma. Berdasarkan data yang ada diduga keberadaan Kerajaan Tarumanegara berlangsung dari abad ke 5 hingga akhir abad ke 7 M.

Selain To-lo-mo di Jawa Barat juga disebut adanya Kerajaan Holotan. Sejarah lama Dinasti Sung (420-478) menyebutkan tentang adanya utusan sebuah kerajaan lain yang di duga juga berada di Jawa Barat. Diceritakan bahwa pada tahun 430 datang utusan dari Kerajaan Holotan dengan membawa upeti. Kedatangan utusan dari Kerajaan Holotan  tersebut tercatat pada tahun 430, 433, 434, 437, dan 452. Setelah tahun 452 Kerajaan Holotan tidak lagi mengirimkan utusan ke Cina, hal ini diduga karena kerajaan tersebut sudah menjadi bawahan Kerajaan Tarumanegara.

Menurut beberapa ahli, nama Holotan dapat dihubungkan dengan (Ci) Aruteun. Merupakan kebiasaan pada masa lalu bahwa nama kerajaan yang berada di dekat muara sungai selalu menggunakan nama sungai yang bersangkutan. Berdasarkan tinggalan arkeologis yang ada, bekas kerajaan yang ada di muara sungai tersebut adalah Situs Muarajaya. Situs ini berada di Kampunng Muarajaya, Desa Ciaruteun Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor.

Bagaimana menuju ke lokasi?
Kampung Muarajaya merupakan daerah yang berpenduduk jarang. Mata pencaharian mayoritas penduduk adalah berladang. Kampung ini berada di daerah pedataran sedikit bergelombang dengan ketinggian berkisar 100-200 meter dari permukaan laut. Lahan kampung dikelilingi tiga aliran sungai yaitu Sungai Cisadane di sebelah utara, Sungai Cianten di sebelah barat, dan Sungai Ciaruteun di sebelah timur. Di sebelah selatan Kampung Muarajaya terdapat Kampung Munjul.

Kampung Muarajaya berjarak sekitar 19 km disebelah barat daya kota Bogor. Kondisi jalan yang telah beraspal memungkinkan situs dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua. Untuk menuju lokasi dapat melalui jalur Bogor-Ciampea-Simpang Lebak Sirna-Ciaruteun Ilir. Apabila menggunakan kendaraan umum, dapat menggunakan angkutan kota jalur Bogor-Ciampea dan dilanjutkan dengan ojek sampai ke lokasi.

Obyek-obyek arkeologis yang terdapat di situs Muarajaya berupa batu dakon, Prasasti Ciaruteun, Prasasti Kebon Kopi I, Prasasti Muara Cianten, dan batu datar. selain itu berdasarkan hasil ekskavasi oleh Balai Arkeologi Bandung pada tahun 2006 dan 2008, di lokasi tersebut ditemukan adanya tatanan batu mendatar yang membentuk seperti balai

Jejak jejak Tinggalan
a. Batu Dakon
Batu Dakon berada pada suatu lahan berukuran 7x6 m, dikelilingi pagar tembok setinggi kurang lebih 140 cm. Di dalam lahan tersebut terdapat dua batu dakon yang berjajar timur-barat, berjarak sekitar 1 m. Pada permukaan batu dakon tersebut masing-masing terdapat 8 dan 10 lubang. Di sebelah selatan batu dakon terdapat dua menhir yang berjajar timur-barat berjarak sekitar 1m.
b. Prasasti Ciaruteun
Prasasti Ciaruteun sekarang ditempatkan pada lahan berpagar seluas sekitar 1000 meter persegi dan dilengkapi cungkup berukuran 8x8 m. Prasasti dipahatkan pada sebongkah batu andesit berhuruf Palawa berbahasa Sansekerta, dituliskan dalam bentuk puisi India dengan irama anustubh terdiri dari 4 baris.
Berdasarkan Pembacaan oleh Poerbatjaraka prasasti tersebut berbunyi
             Vikkranta syavani pateh
              srimatah purnnavarmmanah
              tarumanagarendrasya
              visnoriva padadvayam
yang artinya: " ini (bekas) dua kaki, yang seperti kaki dewa Wisnu, ialah kaki Yang Mulia Sang Purnavarman, raja di negeri Taruma, raja yang gagah berani di dunia"
Di atas tulisan terdapat goresan membentuk gambar sepasang tapak kaki dan ditengahnya terdapat gambar laba-laba.
Prasasti Ciaruteun














c. Prasasti Kebon Kopi I
Prasasti Kebon Kopi I oleh masyarakat juga disebut Batu Tapak Gajah. Prasasti Kebon Kopi I dipahatkan pada sebongkah batu dengan bentuk tidak beraturan. pada permukaan batu yang menghadap ke timur terdapat pahatan yang membentuk 2 telapak kaki gajah. Di antara kedua pahatan tersebut terdapat 1 baris tulisan setinggi 10 cm. Prasasti ditulis dalam bentuk puisi anustubh yang artinya sebagi berikut:
" Di sini nampak sepasang tapak kaki..yang seperti Airawata, gajah penguasa Taruma (yang) agung dalam...dan (?) kejayaan".

Prasasti kebon Kopi










d. Prasasti Pasir Muara
Prasasti ini berada di tepi sisi barat Sungai Cisadane, berjarak sekitar 50 m dari pertemuan dengan Sungai Cianten. Karena masih berada pada lokasi semula, maka pada waktu air sungai pasang akan terendam. Prasasti Pasir Muara dipahatkan pada sebongkah batu dengan bentuk yang tidak beraturan. Keadaan batu pada beberapa bagian sudah mengelupas karena gerusan air sungai. Tulisan berupa aksara ikal seperti motif suluran yang belum dapat dibaca.

e. Struktur Batu
Ekskavasi pada tahun 2006 di kebun milik H. Murad Effendi menemukan struktur batu pada kedalaman 65 cm. Struktur batu tersebut berupa susunan batu kali yang disusun memanjang dengan orientasi arah timur-barat. Pada ekskavasi tahun 2008 struktur batu juga ditemukan di sebelah barat daya prasasti Kebon Kopi, Pada kedalaman sekitar 40 cm. Struktur batu tersebut berupa tatanan batu kali yang membentuk lantai.

Prasasti Ciaruteun dan Kebon Kopi I menandakan bahwa Tarumanegara menguasai wilayah ini. Batu dakon, menhir dan temuan struktur batu merupakan sisa-sisa kota muara Ciaruteun  yang dapat disamakan dengan Holotan dalam berita Cina (Endang Widyastuti). 

Minggu, 26 Desember 2010

Semarak Arkeologi 2010

Semarak Arkeologi 2010 telah diselenggarakan di Bandung pada bulan Juni sebelumnya, acara serupa  telah juga dilaksanakan setahun yang lalu di Jayapura. Pada intinya Semarak Arkeologi bertujuan untuk lebih memasyarakatkan lagi hasil-hasil penelitian arkeologi kepada masyarakat. Adapun rangkaian kegiatan yang laksanakan adalah seminar dengan tema "Nusantara  dalam Perdagangan Dunia", lomba fotografi dan majalah dinding untuk siswa-siswi SMU dan SMP, pameran kepurbakalaan dan kunjungan situs kota tua Bandung.

Kamis, 09 Desember 2010

Struktur Organisasi

Kepala:
Dra. Desril Riva Shanti

Kepala SubBagian Tata Usaha:
Sukirja, SE

Urusan Keuangan        : Sujiyanta, Anwar Sanusi, Irawan, Amir
Urusan Kepegawaian  : D. Saripudin
Urusan Umum             : Sarbowo, Dadan, Engkos, Irvan, Andri
Perpustakaan              : Santosa, Tukirin
Teknisi                        : Acep Adra'i, Y Hardikusuma, Wudi Suhartanto, Widarwanta, Dayat, Duloh, Adman

 Kelompok Jabatan Fungsional:

1. Dra. Sudarti, M.Hum
2. Drs, Lutfi Yondri, M.Hum
3. Drs. Nanang Saptono
4. Dra. Effie Latifundia
5. Dra. Endang Widyastuti
6. Nurul Laili, S.S
7. Octaviadi Abrianto, S.S
8. Lia Nuralia, S.S
9. Oerip Brahmantyo Boedi, S.S
10. Iwan Setiawan, Mpd
11. Anton Ferdianto, S.Hum
12. Rusyanti, S.Hum

Minggu, 24 Oktober 2010

Balai Arkeologi Bandung, Sekilas..

Balai  Arkeologi Bandung berdiri pada tanggal 1 Juli 1992 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor: 0290/0/1992. Merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) bidang kebudayaan di bawah naungan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, dengan wilayah kerja meliputi Propinsi Jawa Barat,DKI Jakarta, Lampung dan Kalimantan Barat.
Balai Arkeologi Bandung, sebelum 1 Juli 1992 yaitu sejak 1981 sebenarnya pernah juga menjadi Instalasi Pusat Penelitian Arkeologi Nasional yaitu sebagai Laboratorium Paleoekologi dan Radiometri yang dikenal dengan Palrad.
Seiring dengan Perubahan susunan di Lingkungan Kepemerintahan Republik Indonesia, pada tahun 2006 dengan terbitnya Peraturan Menteri Kebudayaan Dan Pariwisata Nomor PM.39/OT.001/MKP 2006, kemudian Balai Arkeologi Berada di bawah naungan Departemen Kebudayaan Dan Pariwisata dengan wilayah kerja meliputi Propinsi Jawa Barat, DKI Jakarta,Banten dan Lampung.
Tugas Pokok Balai Arkeologi Bandung adalah melalukan penelitian arkeologi di wilayah kerjanya. Dalam melaksanakan tugas tersebut Balai Arkeologi mempunyai fungsi, yaitu:
1. Melakukan pengumpulan, perawatan, pengawetan, dan penyajian benda yang bernilai  budaya dan ilmiah yang berhubungan dengan penelitian arkeologi
2. Melakukan urusan perpustakaan,dokumentasi dan pengkajian ilmiah yang berhubungan dengan hasil penelitian arkeologi
3. Memperkenalkan dan menyebarluaskan h asil penelitian arkeologi
4. Melakukan bimbingan edukatif kultural kepada masyarakat tentang benda yang bernilai budaya dan ilmiah yang berhubungan dengan arkeologi
5. Melakukan urusan tata usaha dan rumah tangga Balai.
Balai Arkeologi Bandung saat ini sudah terhimpun sejumlah hasil penellitian dari berbagai situs yang meliputi periode budaya Prasejarah, Klasik, Islam, dan Kolonial di wilayah  kerja. Para Peneliti yang terhimpun di bawah Balai Arkeologi Bandung saat ini telah meliputi beberapa kepakaran, baik di bidang prasejarah,klasik, arkeologi sejarah, permukiman dan etnoarkeologi, yang siap melayani masyarakat.